Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai

Pulau Padar yang Cantiknya Berpendar

Dari Manggarai kami mengebut untuk bisa sampai ke Labuan Bajo secepat mungkin karena ada janji yang harus ditunaikan. Janji itu tak lain adalah meliput restoran berikut makananya di Happy Banana yang letaknya di pusat kota Bajo.

Beruntung kita sudah sampai sebelum jam janjian, jadi kami pun sengaja mampir dulu ke toko oleh -oleh yang letaknya dekat bandara. Tempat lengkap dan besar tetapi mahal juga ya harganya. Kalau dipikir-pikir memang lebih baik kita beli di perajinnya langsung daripada beli saat barang sudah masuk toko. Bikin bangkrut.

Di hari terakhir kami di Bajo, kami memutuskan untuk menginap di tempat yang rada mahal dan nyaman, Luwansa beach resort, namun letaknya lumayan jauh dari kota. Tapi yang paling cool di sini dekat dengan pantai dan juga kalau sore banyak banget kerbau-kerbau berjalan-jalan sepanjang pantai bikin gemes. Apalagi dipayungi dengan senja yang teduh, duh bener-bener bikin betah.

Sehabis sore kami langsung meluncur ke Happy Banana yang ternyata restorannya mini banget tapi banyak banget bule yang nongkrong di sini. Ya, gimana ya konsepnya sesuai dengan mereka yang cinta hidup sehat karena di sini makannya vegan dan juga sehat. Di sini saya pertama kalinya juga makan poke yaitu salad yang dicampur sama ikan-ikan mentah. Bukan cuma itu, di sini juga pertama kalinya makan tuna mentah yang paling enak karena sekali hap langsung berasa lembut dan wow banget sampai gak bisa berkata-kata. Tuna ini bener-bener segar dan langsung dari nelayan di sini jadi super manis dan enak. Rekomen banget bagi kalian yang ke Bajo nyari makanan sehat langsung ke Happy Banana.

Di hari ini juga kita berpisah sama Rian yang sudah temenin kami sekitar 5 hari. Jadi pulang kita kebingungan karena larut malam sehabis liputan makanan yang bikin saya kekenyangan sekali. Tapi melihat kami yang celingak celinguk, si mba pembuat sushi menawarkan untuk mengantar kami ke hotel dengan motor dan ternyata dia bukan asli sini, tetapi udah betah banget dan yang pasti super baik. Padahal jalan dia pulang berbeda arah dengan kami. Di hotel, kami buru-buru tidur karena sebelum subuh sudah dijemput di hotel untuk hoping island.

Subuh-subuh mama dan teman saya sudah jutek-jutekan karena si mama bete sama temen saya yang lambat. Si mama memang modelan ga sabar, sementara temen saya juga santai mania jadilah mereka bertubrukan. Saya melihatnya cuma diam karena gak mau gara-gara ini semua jadi bete. Kami dijemput dengan elf dan langsung naik di speedboat bersama para bule. Di area kami sendiri cuma kami bertiga yang lokal dan yang lainnya bule sungguh sangat dramatis. They are talking each other trus gw cuma diam lagi dan menebar senyum khas Indonesia yang penuh keramahan hahaha.

Saya juga cukup enjoy mengawali perjalanan kami karena golden sunrise yang menghangatkan hati dan begitu syahdu. Sudah lama rasanya tidak melihat sunrise yang begitu cantik di tengah perbukitan berwarna coklat. Jadi untuk perjalanan ini saya menggunakan jasa one day trip sekitar 500 ribu yang menuju Pink Beach, Pulau Padar, Pulau Komodo, Manta Point, Pantai Taka Makassar dan Kanawa island dan berlangsung seharian penuh.

Di spot pertama kita ke Pink Beach, semua orang di kapal sudah demikian semangat buka baju langsung nyebur. Sementara kita di kapal mikir-mikir karena gak bawa baju dan abis ini harus trekking gimana caranya kalau basah-basahan. Sebuah keputusan yang bodoh sebenernya cuma tinggal di kapal ngeliatin bule berenang dengan pantai secantik itu. Lebih cantik dari pink beach di Lombok jujurly, apalagi dengan mama yang gosipin bule dapet cewe item pekat dan dibilang masih cakepan lu tya, hadehhh…

Di atas pun sembari melihat bule-bule berenang kita pun ngantuk sangat, kayak capek all days long tertumpu hari ini sial! Memang saya niatnya menaruh komodo island ini di akhir dengan tujuan safe the best for the last eh tapi malah kitanya kecapean. Baiklah, kapal pun begerak juga ke Padar Island.

Sebuah pulau paling cantik selama kita hoping island dan gak ada sinyal. Jadi kita harus naik untuk melihat tiga gugusan bukit yang sudah terkenal di mana-mana. Trekking padar juga lumayan karena saat itu matahari mulai muncul dan gersang jadi lumayan bikin ngos-ngosan, pun di atas harus menunggu atau berebut untuk foto yang presisi dengan 3 gugusan itu. Alhasil capek jadi dobel. Belum lagi si mama yang gangguin terus “tya foto sini situ sini” oh my god pengen rasanya lempar hapenya ke laut.

Di sini lah puncak ngambek saya ke nyokap yang gak kenal kondisi kalau mau foto. Lah anaknya aja gak kepikiran foto dulu yang penting istirahat dan ngatur napas dulu. Jadilah karena mood saya bete begitu saya gak dapet foto yang bener-bener bagus. Untung ada abang-abang tour guide yang baik hati memotret saya. Itu pun cuma sebentar karena kita harus bergegas balik ke kapal. Semuanya serba cepat-cepat begitulah gak enaknya open trip.

Tapi di balik keriweuhan, pulau Padar sungguh jangan dilewatkan. Semoga pas kamu ke sana lagi gak banyak orang jadi foto-fotonya lebih leluasa dan bener-bener menikmati betapa indahnya ciptaan Tuhan. Habis ini kita lanjut lihat komodo mau tau serunya gimana? tapi cek dulu cakepnya Padar di sini ya.

Magical Bajawa: Desa Wologai, Bukit Bunga Manulalu hingga Persawahan Spider Web

Di antara tempat terindah sepanjang road trip Flores, saya memilih Bajawa sebagai tempat favorit. Kenapa? pertama, suhu udara di sini sejuk nian, kira-kira belasan derajat jadi bikin tidur pulas. Kedua, tempat ini cenderung sepi dari wisatawan dan kalem padahal pesonanya bukan main.

Namun patut diingat, kalau kamu datang menjelang musim hujan atau pas musim hujan, kabut di sini bisa sangat tebal padahal kamu sudah keluar rumah tengah hari. Makanya perlu waspada, apalagi kamu baru pertama berkendara di sini karena jarak pandang bisa benar-benar pendek. Sementara jalan yang dilalui juga kecil dan kanan kirinya perbukitan dan hutan. Gegara hal ini, sopir saya Rian, yang asli Bajawa padahal, selalu tegang dan kaku saat mengendara yang otomatis bikin atmosfir di dalam mobil keikutan tegang hahaha…

Dan ketegangan ini berlanjut sampai kami benar-benar failed menemukan si danau 3 warna Kelimutu yang ngumpet di balik kabut nan tebal. Gimana gak tegang dan kesel, Kelimutu seyogyanya adalah tujuan akhir kami selama over land, bahasanya itu “safe best thing for the last” eh malah kaga dapet. Hujan terus terusan bukan cuma membuat kami kebasahan di Kelimutu tetapi membuat harapan kami terendam kekecewaan.

Alhasil terjadilah perdebatan di Kelimutu, apa mau lanjut ke destinasi lain atau mau menunggu sampai si Kelimutu mau menunjukkan diri. Setelah adu argumen di atas bukit Kelimutu, maka disimpulkanlah kalau kami memilih pergi meninggalkannya karena tak ada tanda kabut bakal pergi segera. Tempat pertama pengganti Kelimutu adalah Desa Wologai, Bajawa.

Desa ini cenderung kecil hanya terdapat beberapa rumah, berbeda dengan desa Bena atau Waerebo yang sebelumnya saya datangi. Tidak ada susunan yang khas, tetapi desa ini punya warga yang paling ramah. Ketika kami datang saja, anak-anak sudah menyambut kami dengan senyum malu-malu khas warga desa. Kalau sudah begini, buru-buru saya megeluarkan kamera sebab momen senyum mereka sayang dilewatkan. Lalu anak-anak ini jadi semakin malu, dorong-dorongan dan tertawa. Ih, gemas banget kan.

Oh ya, tidak ada tiket, tapi kami diharuskan untuk mengisi daftar tamu saja. Selepas itu, kami dilepas begitu saja menuju desa yang benar-benar sepi. Ternyata di desa ini, orang-orang sudah tidak menghuni rumah tersebut. Mereka memilih pindah ke rumah yang lebih modern dan tidak lagi bernaung di rumah tradisional yang cuma beratapkan ijuk ini. Saat asik memotret, kami disatroni ibu-ibu yang menawarkan kain ikat khas Bajawa. Awalnya dia menawarkan kami membeli tapi kami balik menawarkan kalau kami cuma mau meminjam dan kami bayar. Eh diokein, maka tuntaslah rasa penasaran saya pakai kain ikat dengan menyelubunginya sampai kepala saya. Cara memakai kain ini yang sering saya lihat di Bajawa apalagi cuaca sedang dingin begini.

Sama seperti anak-anak, ibu-ibu ini pun tak kalah ramah dan sering senyum. Sambil mengunyah sirih, mereka mengajak ngobrol kami hingga “cekrek” si Rian tiba-tiba candid potret kami. Hal yang sungguh di luar kelaziman. Kenapa nih bocah tiba-tiba begini, padahal di perjalanan sebelumnya cuek abis, jarang ngobrol dan suka pergi sendiri. Lalu, dia juga yang mengajak saya berfoto sendiri. “Mau difotoin ga kak, di sini bagus”. Satu dua detik saya harus mencerna keanehan gelagat Rian. “Oh, ok” kata saya dan karena masih sibuk mencerna kelakukan Rian, foto saya jadi aneh gitu. Keramahan Rian ini terus berlanjut ke destinasi selanjutnya. Hingga saya dan juga yang lain menyadari mungkin Rian ikut merasa menyesal karena kita tidak mendapatkan Kelimutu. Suatu penebusan dosa, mungkin hahaha.

Dari desa Wologai kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Manulalu. Tempat ini sebenarnya penginapan yang berada di kaki gunung Inerie dan dikelilingi bukit-bukit. Di depan penginapan ini memang bisa dimasukin untuk umum, jadi kawasan ini mempunyai taman bunga yang cantik dan berwarna warni. Jadi kamu tinggal beli tiket aja dan sudah bisa menikmati spot-spot instagramable di sini. Cantiknya lagi, dari sini kita bisa melihat betapa mempesonanya Inerie yang berdiri gagah melihat kita. Plusnya lagi, kabut sudah turun saat kami datang dan berkumpul tepat di bawah Inerie, wah keren banget lah. Apalagi kamu bisa banget seharian di sini karena kawasan ini lumayan luas dengan kontur bukit yang naik turun. Namun sayangnya kita gak punya waktu banyak, karena harus langsung menuju Bajo.

Dari sini, Rian yang masih terlihat bersalah, menyarankan kami buat singgah sebentar di persawahan yang mirip jaring laba-laba atau spider web. Kata Rian, sebenernya ada beberapa tempat di Ruteng yang punya lokasi seperti ini, namun karena kita mencari yang paling dekat ya tempatnya di Bajawa ini. Saya pikir, tempat seperti ini kawasan wisata tetapi bukan loh. Jadi ya memang persawahan warga saja. Sebab dianggap unik oleh banyak wisatawan, khususnya luar negeri, maka banyak warga yang inisiatif membuka kawasan ini secara swadaya. Mereka pun menaruh kotak-kotak restribusi bahkan bulu tamu, semacam pos, yang dijaga sama warga sekitar. Pas saya datang, saya kembali diminta mengisi buku tamu dan si ibu langsung menyuruh anak-anak mengantar kami.

Bocah-bocah ini pun antusias menunjukkan jalan dengan kekuatan dan kecepatan yang super sampai kami para jompo ketinggalan. Apalagi jalanan menuju penampakan sawah ini menanjak terus dengan tangga seada-adanya dan jalanan yang sempit, sehingga sukses membuat napas kami putus-putus wkwkwk. Pas udah sampai di atas, cuma seruan “yaaaahhhh” yang terdengar karena si spider web tidak sempurna alias bopeng-bopeng dengan warna yang tak beraturan. Ternyata, memang kami yang salah waktu gegara sawah-sawah mereka sudah dipanen jadi ya warnanya ada yang hijau dan coklat. Cuma memang masih kentara bentuknya seperti apa.

Yaudah deh kita turun lagi, dan kami juga tak lupa memasukan uang seikhlasnya untuk para warga bisa menjaga daerah ini. Namun saya masih terbayang satu hal dan membuat saya sedikit merasa tak nyaman. Di atas bukit tadi, bukan hanya spider web yang kita lihat, saya justru fokus ke penambang liar yang lagi sibuk menggerus perbukitan hingga menjadi hampir botak dan mungkin dalam waktu dekat bisa menyebakan longsor, apalagi mereka gak pakai alat yang memadai. Plis lah, manusia jangan serakah banget sampai bikin miris gitu.

Lepas dari itu semua, kita harus mulai bersiap-siap menuju Bajo dengan perjalanan yang lumayan panjang. Tak hanya itu, malam ini kami ada janji makan di restoran sushi, milik chef kenalan redaktur kami. Mau tau kayak gimana kelanjutannya, ikutin terus ceritanya ya.

Kelimutu yang Tertutup Kabut

Kami sampai di hotel daerah Kelimutu dengan cuaca sangat tidak bersahabat. Tapi dasar aku kalau gak nyoba dulu pasti penasaran, sama halnya dengan mencoba melihat sunrise Kelimutu besok pagi. Saya sudah mewanti-wanti Rian, driver saya, untuk bangun besok pagi jam 5 dan jangan telat nanti keburu ilang tuh sunrise.

Dari raut mukanya Rian, dia ragu tapi saya memilih masa bodoh dan mencoba positive. Tidur malam itu perasaan kami campur aduk karena di luar masih hujan gerimis dan masih terasa adrenalin mengemudi Rian yang begitu tegang akibat kabut yang menutupi jalannya. Maka kali ini saya menyatakan kabut sebagai musuh saya dan ternyata benar-benar seterusnya.

Saya terbangun karena alarm menyala kami bersiap dan menghempaskan rasa kantuk kami. Masih gerimis tapi sudah tidak terlalu separah semalam. Cuaca di luar benar-benar menusuk tulang tapi saya yang semakin terbiasa dengan udara daratan tinggi Flores pun tak mengeluh. Keluar hotel, saya cari-cari di mana Rian. Saya telepon tak kunjung dijawab. Semakin khawatir saya karena hujan semakin lebat. Padahal ini adalah tujuan akhir kami overland Flores, saya membayangkan akhir yang sedih juga supaya ekspektasi tidak menyakiti saya. Setengah jam krang kring krang kring akhirnya dua pemuda ini bangun dengan wajah gelagapan karena muka saya sudah keburu jutek.

Semburat pagi sudah mulai muncul maka Rian pun langsung tancap gas. Ternyata untuk menuju danau 3 warna itu, lumayan jauh dari pintu gerbangnya. Hujan semakin hingar bingar membuat kami semakin lesu. Yah, gimana nih. Kami pun berlarian ke kios makanan, tepat di sebelah tangga menuju Kelimutu. Fix! hilang sudah sunrise yang diidam-idamkan. Ku menangis….

Kami memutuskan untuk sarapan dulu, tapi jujurly hati saya makin tidak karuan kalau itu danau 3 warna gak terpampang di muka saya. Maka saat hujan mulai sedikit reda kami pun langsung naik tapi astaga kabut tak juga hilang. Karena gak mau lagi bete, maka saya bercanda-canda dengan mama dan Dewi yang saya rasa juga punya rasa kecewa seperti saya. Kami main tebak-tebakan sepanjang perjalanan menuju danau dan juga meledek Rian.

Namun mau memperbaiki sebagaimanapun ya, tetap saja kabut membuat kami patah hati. Setelah naik ke puncak kami pun tidak mendapati warna-warna itu cuma sekilas-kilas saat kabut sudah tak lagi pekat.

Saat si danau menunjukkan warnanya kami berteriak histeris hahahah….tapi saat dia tertutup lagi tabir kabut kami langsung kecewa.

Apakah ini akan berlangsung terus menerus? padahal hari sudah semakin siang. Jika kami tidak mengikuti jadwal yang kami buat maka kemungkinan kami akan sampai malam menuju tempat selanjutnya.

Rian yang melihat kita kecewa menyarankan untuk menunggu di sini sampai siang dengan harapan cuaca berubah. Ini lah titik perdebatan antara mama, Dewi dan saya yang bikin si Rian melongo pasrah. Saya dan Dewi tetap penasaran dan mau menunggu, sementara si mama sudah pesimis cuaca tidak akan berubah. Rian menyarankan untuk kami ke Desa Wologai dan mengunjungi tempat lainnya di daerah Bajawa.

Akhirnya dengan berat hati kami tinggalkan Kelimutu yang benar-benar membuat kami kecewa, kebasahan sampai kedinginan. Sedih bener. Jadi katanya disarankan jangan di bulan Juni ke belakang untuk datang ke sini karena cuacanya kurang bersahabat. Jadi lebih baik sebelum Juni gitu. Karena sudah terlanjur kacau semua, semoga next destination tidak membuat galau ya. Penasaran mau kemana? simak cerita lanjutannya nanti.

Pantai Batu Biru dan Tongkat Monyet di Rumah Pengasingan Soekarno

“Ih kok pantainya kotor ya?” itu komen yang saya dapat saat mempublikasi foto Blue Stone Beach ke media sosial. “Mananya yang kotor? itu batu tau” kata saya menanggapi. Tapi memang banyak orang yang tidak familiar dengan tampilan pantai di Ende ini. Betapa tidak, pantai ini mempunyai batu berwarna hijau dan biru juga abu plus pasir pantainya hitam sehingga bebatuan di sini tampak mencolok.

Jadi sebenernya saya baru tahu ada pantai ini setelah driver saya memutuskan untuk berhenti sejenak melepas lelah dari Bajawa dan akan menuju Kelimutu. Jadi sebenernya, semua ittinerary sepenuhnya saya serahkan kepada driver si Rian ini hahaha secara dia tahu tempat yang menarik di sepanjang perjalanan saya dari Labuan Bajo menuju Kelimutu.

Terpenting, pesan saya cuma bisa nginep di Waerebo dan diakhiri di Kelimutu. Balik lagi ke pantai, angin di sini bener-bener membius karena begitu menenangkan. Makanya tak heran banyak pejalan yang memutuskan rehat di sini sambil tidur-tiduran di saung pinggir pantai. Kami juga bersantap di sini dengan lauk serba ikan dan maknyos banget. Mumpung lagi rehat dan Rian memutuskan rebahan sebentar, maka kami juga memanfaatkan waktu itu keliling pantai ini. Pantai yang berada di pinggir jalan ini tampak sepi karena memang tidak ada yang berenang, gak tau kenapa mungkin mereka sudah terbiasa melihat pantai ini.

Untuk duduk-duduk atau membuat pasir juga sulit di sini karena batuannya banyak banget dan terhampar, dengar-dengar batu ini juga kerap diambil sama orang-orang untuk dijadikan hiasan, cantik sih, kok saya gak ikutan ngambil yak! Tetapi ya tetap aja gak bagus kalau diambilin terus, gimana kalau tiba-tiba habis. Main di pantai ini juga serba salah, nyeker salah karena kaki sakit kena batu, tapi pake sepatu/sendal pun kayak gak nyaman gitu hahaha ribet ya. Cuma yang terpenting kalau di sini tolong jaga kebersihan ya, karena pantai-pantai di Flores ini indah tak ada duanya jadi sayang banget kalau yang nikmatin pantai itu jorok hm…

Setelah 2 jam rehat, kayaknya saya tahu kenapa si Rian kecapean juga gegara dia bener-bener konsentrasi untuk mengemudi. Jadi walaupun emang jalanan di sepanjang road trip ini sepi dan mulus, tapi cuaca bener-bener gak ngedukung. Gerimis dan hujan membuat kabut cepat turun padahal masih siang bolong plus juga banyak hewan ternak sampai anjing yang suka bikin kaget karena mereka tanpa rasa bersalah leha leha aja di pinggir jalan. Asem bener ya.

Kita lanjutkan lagi perjalanan menuju pusat kota Ende dan di sanalah ada museum rumah pengasingan Bung Karno dan juga pohon pancasila wow banget. Eh tapi sebelum sampai di sana kita udah dibuat merengut dan deg degan. Gimana gak, pas udah mau deket, ternyata kita kejebak kemacetan ya jarang banget nih kalau gak karena ada sesuatu. Sebab bosan maka kami pun keluar dan mencari tahu ada apa nih, ternyata ada perbaikan jalan sehingga yang bisa digunakan cuma satu jalur. Waduh, masalahnya itu jam-jam itu udah mau jam tutup museum, yah masa sih harus kita skip. Saya pun bertegur sapa dengan beberapa warga yang ikutan mengerubung bahkan keluar dari mobil angkot colt. Beruntung, kemacetan ini gak sampe 2 jam hingga kita masih sempat deh ke museum.

Mata saya langsung mencari-cari di mana letak museumnya ternyata hanya berupa rumah kecil yang terhimpit dengan bangunan tempat tinggal dan pemerintahan. Yang bikin takjub suasana dan udara di Ende ini benar-benar bersih dan nyaman dihirup. Kami pun memarkirkan mobil kami di alun-alun yang ternyata juga di sanalah letak pohon sukun yang jadi tempat Sukarno menulis Pancasila.

Yadahlah kita langsung tancap gas ke museumnya dulu, ternyata belum tutup yey. Tapi kami cuma punya waktu sebentar buat mengitari rumah ini. Untuknya cuma secuil rumahnya, jadilah kita menjadi penonton betapa sederhananya rumah ini. Ada kasur, meja kursi, dan perabotan lainnya di dalam rumah pengasingan ini. Namun yang paling membuat saya begitu perhatian adalah ada macam-macam tongkat Bung Karno. Salah satunya tongkat dengan gagang berbentuk monyet, katanya, tongkat ini dia pakai kalau mau bertemu Belanda. Simbol monyet di tongkat ini merupakan simbol memperolok Belanda kala itu yang menjajah Indonesia. Menarik ya. Di belakang rumah ini pun ada sumur yang masih dibiarkan begitu saja, cuma diberi cat baru agar tak kelihatan angker banget ya hahaha.

Ok, karena sudah mau tutup kami memutuskan bergeser ke Taman Perenungan Sukarno. Oia untuk masuk ke rumah ini gratis namun disediakan kotak uang untuk biaya pemeliharaan serta buku tamu. Saat di taman ini kami langsung mencari-cari di manakah pohon sukun yang dimaksud itu. Sapa tahu kita juga bisa dapat ilham menciptakan apa gitu biar kayak Sukarno wkkwwkwk. Tapi ya, setelah dilihat-lihat ternyata tidak ada pohon spesifik yang dimaksud. katanya pohonnya udah keburu tumbang. Yah banget! Cuma di sana yang mencolok ada sang bapak bangsa yang lagi kelihatan duduk dan menulis. Kira-kira di sini lah Sukarno dulu mendapatkan ilham menulis Pancasila. Sebenernya rada kecewa sih karena feel sejarahnya kurang dapet banget nih padahal udah jauh-jauh ke sini.

Baeklah karena hari sudah semakin sore kami langsung meneruskan perjalanan lagi menuju hotel yang dekat dengan Kelimutu. Namun perjalanan tak bisa santai, saat langit mulai gelap dan hujan. Lampu pun begitu minim dan jarak pandang kami benar-benar terbatas. Rian lalu menegakkan dan memajukan kursinya tampaknya dia benar-benar mau konsentrasi apalagi kami bersisian dengan jurang.

Sementara kami di belakang sibuk wah wah wah aja kaga pengertian sampai membuat Rian yang orangnya adem ayem mengomeli kami dan menyuruh diam. Entah kenapa kami pun menurut karena paham kayaknya ini bener-bener gawat deh jalannya. Si mama terus merapalkan berbagai doa, tahlil, tahmid dan sebagainya. Lalu saya meremas ujung kursi dan berharap semua baik-baik saja. Setelah ketegangan hampir satu jam, Alhamdulillah kami selamat sentosa dan sampai di hotel kami yang begitu dekat dengan Kelimutu.

Sesaat kami juga bimbang apa bisa dengan cuaca buruk begini lihat sunrise di bukit Kelimutu. Penasaran apa kita bisa lihat? nantikan cerita selanjutnya.

Desa Bena, Gratis Kelilingi Desa Zaman Batu di Bajawa

Sebagai orang ibukota, saya pun menyerah diajak kemana saja oleh si tour guide Rian yang diketahui trackrecord-nya sudah menganter tamu ke mana saja. Maka sehabis dari Wae Rebo tengah hari kami langsung diantar ke Bajawa. Nah, dari Wae Rebo ke Bajawa itu lumayan panjang perjalanannya guys. Jadi kudu sabar dan tidur, nyemil, makan aja terus.

Yang unik dari perjalanan kami dari Wae Rebo ke Bajawa itu kudu hati-hati walau jalanan sudah mulus tapi tetap saja banyak jebakan. Bukan paku atau orang jahat, tapi yang jadi jebakan itu si anjing-anjing yang pada suka gegoleran di tengah jalan. Jadi kadang-kadang kita ngerem mendadak karena si anjing tiba-tiba nongol trus kucluk kucluk udah aja dia tiduran. Eh buset nyebelin banget.

Perjalanan ke Bajawa juga kita dikagetkan lagi sama hujan yang tiba-tiba membuat semua kabut pada turun dan gelap. Wah apa-apaan nih padahal saat itu masih jam 2 siang. Seakan-akan menemukan daerah yang bener-bener bikin syok dan suprise dalam waktu yang bersamaan. Alhasil mulut kita gak berhenti menganga sementara Rian semakin fokus dan serius menyetir.

Akhirnya hampir sore kami sudah sampai di Desa Bena. Di kelilingi hutan bambu dan di dasar gunung Inerie, desa ini ada. Cukup sepi dibandingkan dengan Desa Wae Rebo. Maka kami masuk dan kami pun bingung karena gak ada harga tiketnya. Malah kami diberikan seledang tenun sebagai bukti kami adalah pengunjung.

Trus kami disuruh mengisi buku tamu, bahkan di gubuk penyambutan tamu ini pun tampak begitu sepi. Saya jadi bingung sendiri. Sebab saya gak tahu ini sejarahnya gimana dan hasilnya ya dari google. Ternyata di sini, si Rian emang mau beli gelang hadeh. Suasana desa pun begitu sepi beberapa ibu tampak keluar masuk dengan penuh sirih di mulutnya. Ada ibu-ibu yang kami hampiri dan kami ajak ngobrol soal tenun. Ternyata tenun Bajawa jauh lebih murah daripada tenun yang dijual di kota. Start-nya dari Rp 75 ribu aja udah dapat yang kecil.

Beda dari desa Wae rebo yang bentuknya lingkaran, susunan desa Bena ini berundak. Jadi kita harus beberapa kali naik. Katanya semakin tinggi rumah tersebut maka semakin tinggi juga status sosialnya. Di depan rumah-rumah mereka juga ada simbol-simbol tanduk kerbau sebagai bukti bahwa desa ini juga menggelar upacara kurban. Segitu aja pengetahuan yang kita dapat karena Rian pun gak tahu benar soal desa ini, tak ada pemandu yang bisa menjelaskan kepada kami. Seolah ini desa dibiarkan begitu saja, sedih sih. Jadi semakin ke atas semakin kita bisa melihat rumah-rumah penduduk dari atas.

Dari penelusuran google ternyata di desa ini hidup 45 kk alias 45 rumah yang sudah ada sejak zaman batu dan mereka menyembah leluhur yang ada di gunung Enerai. Saya percaya sih kalau pengelolaan desa ini lebih baik mungkin banyak turis yang datang dan tidak dibiarkan begitu saja keliling sendirian. Seperti di Waerebo, sejak datang kami langsung diberi penjelasan walaupun hanya gak lebih dari 15 menit tapi kita tahu gitu jelasnya gimana.

Pulang dari sini hari sudah semakin gelap dan kita memutuskan untuk menginap di Bajawa. Beda dari Labuan Bajo, kota ini amat tenang dengan homestay dan hotel kelas melati seadanya. Namun mereka tetap terbaik juga memberikan pelayanan pada tamu walau kondisinya masih terbatas. Keesokan harinya adalah perjalanan ke Ende, mau tahu serunya gimana tungguin kelanjutan ceritanya.

Berburu Milky Way di Waerebo hingga Pulau Bernama Mules

Malam itu kami menginap di rumah yang melingkar di Waerebo. Tak perlu AC karena suhu di sana sudah menusuk persendian. Para turis pun mengikuti bentuk rumah ini yaitu tidur melingkar dengan cahaya yang hanya berpendar dari pelita di dinding. Saya yang begitu lelah sebenarnya gampang sekali tertidur setelah 4 jam trekking.

Tapi rupanya tidur saya jadi tidur ayam karena suara berisik yang bercampur padu dari mendengkur hingga erangan mengeluh tak bisa tidur. Biasanya orang-orang ini biasa tidur di hotel empuk kali ya, sementara di sini kami cuma dikasih kasur lipat dengan selimut ala kadarnya. Ketika tidur saya semakin dalam, mama dan teman saya mengusik tidur saya. Mereka membangunkan karena mau sama-sama melihat milkyway. Saya tentu saja uring-uringan dan mempertanyakan memang ada milky way sehabis hujan. Tapi mereka sama kekeuhnya seperti orang-orang di sini.

Maka saya digeret mereka menuju lapangan di depan rumah ini dan jeng jeng bener kan gak ada apa-apa malah kita kebasahan karena hujan gerimis. Duh, gak ada kan, dan semua pun kecewa. Disebut-sebut, jika cuaca bagus di sini memang bisa melihat milky way karena gak ada polusi cahaya di sekitarnya. Hingga keesokan harinya kami sudah harus mempersiapkan diri untuk kembali turun dan meneruskan perjalanan ke Bajawa.

Jadi pagi-pagi benar kami sudah bangun karena hanya ada beberapa kamar mandi jadi kami menghindari mengantre. Tapi sebelum itu, mumpung belum pada bangun maka kami menikmati lagi suasana di Waerebo yang diselimuti kabut tipis, di saat ini foto-foto masih sangat nyaman karena masih sepi hehehe. Setelah semua dirasa siap, kami kembali menuruni bukit menuju mobil kami tapi kali ini lebih cepat karena kami sudah akrab dengan medannya. Saya pun jadi teringat ada lansia umur 60 tahunan yang sukses menaklukan jalur Waerebo ini, saya pikir ibu saya yang paling tua di sana ternyata ada yang lebih tua lagi. Wah gila sih emang.

Dalam perjalanan, jalanan terasa lebih berat karena sisa hujan kemarin sehingga becek dan basah. Kami harus ekstra hati-hati sampai benar saja akhirnya, sepatu teman saya menyerah dan menganga. Di saat ini, si Boy yang memang anak Flores dan sering nganter tamu bolak balik menyerahkan sendal jepitnya, sementara dia menyeker. Wah mantep bener emang si Boy. Saya pun beberapa kali hampir terpeleset, kalau mama saya ga sigap memang tangan saya mungkin badan saya sudah coklat semua hahaha.

Karena jalanan penuh lumpur, kami tidak bisa mendekati mobil kami. Sehingga dipanggil lah ojek untuk mengantar kami sampai mobil kami yang ternyata si Rian, sopir kami, tidur di rumah penduduk ini.

Oia sebelum itu, saya juga mau cerita di perjalanan dari Labuan Bajo kamu menemukan beberapa spot menarik yang bisa jadi tempat ngopi hingga foto cantik. Pertama itu ada tempat kopi di tengah-tengah sawah sesaat kita mulai masuk ke Kabupaten Manggarai jadi Waerebo ini masuk ke dalam kabupaten tersebut. Kabupaten yang paling besar di Flores ini juga punya karakteristik yang unik karena sebagiannya kota juga berupa pesawahan dan pinggir pantai wah keren lah.

Apalagi kopi-kopi di sini mantep gila bikin melek dengan aroma semerbak. Jadi jangan lupa kopi di pinggir sawah, pantai sampai kota. Satu lagi spot yang bisa dimampirin sejenak yaitu pinggir laut yang bisa melihat Pulau Mules. Beneran namanya Mules lucu banget ya kek sakit perut gitu tapi ternyata nama lokalnya itu Molas yang artinya cantik. Iya dari kejauhan aja kelihatan cantik bentukannya. Penasaran sih, lain kali lah kalau ada kesempatan kita main ke sana, katanya sih mau dijadikan tempat wisata. Ya, semoga deh.

Sekian dulu deh ceritanya, nanti bakalan ada cerita yang lebih seru lagi selama overland di Flores. Semangat terus.

Wah! Trekking ke Waerebo Kayak Masuk ke Dunia Lain

Malam menjelang, saatnya mencari makan dan kami diarahkan untuk makan malam di tempat berkumpulnya streetfood dan dekat dengan mall kecil tapi dalamnya itu toko branded semua. Tiada yang lebih mengesalkan selain pesan makan di Labuan Bajo. Kami sudah laper berat saat itu, tapi coba tebak berapa lama makanan kami matang dan diantar? 1 jam brooo…

Gila sih, kebayang betapa melilitnya itu perut sampai gak terasa lagi laper karena kebanyakan minum air dan nelan ludah hahaha. Tapi di sini diakui semua ikannya segar dan manis rasanya jadi gak ada rasanya tuh jijik atau meh kalau makan seafood mentah karena enak banget dan pilihan kami malam ini jatuh pada ikan bakar plus cumi goreng.

Sama seperti kebanyakan streetfood seafood jadi kamu tinggal pilih aja mau makan apa dan diolah menjadi apa nanti mereka masakin dan sering-seringlah menegur penjualnya karena bisa-bisa makananmu besok selesainya hahaha. Malam ini juga kami menemui sopir kami yang akan mengantar kami overland di Flores sampai Kalimutu. Jeng jeng ternyata bapaknya mengarahkan anak lelaki kurus yang bakal nyopirin kami namanya Rian. Kami kaget karena gak yakin sama kemampuan menyetir si Rian yang tubuhnya bahkan lebih kecil dari saya. Karena tak enak hati jalan sama cewe semua, Rian pun mengajak sepupunya yang gak kalah cupu dan kerjanya tidur mulu hahaha. Nanti ya ceritanya.

Pagi itu, semua semangat untuk mulai trekking. Maksud hati tuh mau tinggal mama di hotel tapi si mama uring-uringan mau ikut. Lho gimana ini treking 4 jam, gimana kalau dia keseleo di tengah jalan dan bingung, gimana bawa orangtua yang umurnya udah mau masuk 50 tahun. Tapi dia meyakinkan diri kalau dia masuk sanggup naik-naik begitu hmmm yasudah lah. Kali ini Boy, sepupunya Rian, yang bakal jadi pemandu kami dan gak usah pake pemandu lagi katanya dia sering bawa orang juga naik turun Waerebo.

Sebelum kami beneran naik, kami jalan-jalan dulu di depan hotel yang masyallah tenang dan relaxing banget. Udara sejuk dan sepoi-sepoi bikin kita mau foto-foto ala-ala video klip haha. Setelah puas kami langsung dijemput sama Rian Cs menuju Waerebo. Dari Labuan Bajo ke Waerebo sekitar 1 jam lalu dari situ kami mulai naik. Sialnya cuaca lagi galau, antara mau gak mau si hujan turun.

Saya sudah siap-siap kalau kalau saja kaki saya gemeter lagi kayak waktu saya trekking di Baduy. Dengan sepatu kets bukan sepatu gunung saya dan teman, mama serta Boy naik. Si Boy udah kek kesurupan cepet banget dia jalan trus lupa kalau ada cewe-cewe lemah. Kalau dia tiba-tiba sadar bawa orang baru deh dia nongkrong sambil ngerokok nungguin kita di atas. Sompret padahal dia cuma pake sendal jepit.

Plus hujan mulai turun maka makin sulitlah kami berjalan karena tanahnya becek. Beruntung kami sudah beli jas hujan di bawah tadi. Mama juga nemu kayu untuk bantu dia naik dan menyanggah badan. Jalanan yang hanya muat satu orang membuat kita harus lebih hati-hati karena di pinggir-pinggirnya jurang. Berbagai pohon sudah ga ngerti lagi itu jenis apa dan sampai pulang sepatu teman saya menyerah dan dia dipinjami sendal boy dan boy tetap saja lihai naik turun gunung ini.

Beberapa kali kami berpapasan dengan bule yang sudah berumur juga sampai penduduk yang membawa barang di kepalanya sambil menyeker. Eh buset. Setidaknya ada 4 pos yang harus kita lewati, pos-pos ini ditandai dengan papan kayu saja. Pertanyaan yang terus terusan ditanya ke Boy itu “masih jauh apa gak?” hahaha. Hingga akhirnya semakin kita ke atas, udara semakin dingin, tapi saya memilih membuka jaket saya yang sudah basah disiram gerimis hingga keringat.

Semakin atas juga semakin kami tahu bahwa kami sudah bukan di tempat yang wajar, antara mistis, indah, dark, wah campur-campur deh pokoknya. Alhamdulillah kami semua tetap semangat dan menjaga tempo kami dan mengatur napas dengan baik. Sekali lagi trekking ini lebih berat karena saya membawa mama, jadi egoisnya kudu dikurangin.

Kabut semakin pekat sampai kami susah melihat jalan di depan. Padahal semakin meruncing saja ini jalan yang buat kami super hati-hati, pohon-pohon pun menjulang membuat sinar matahari tidak bisa masuk padahal kami naik pagi-pagi dan ini mungkin baru jam 12 siang. Oh my god.

Secercah harapan pun datang, saat kami melihat pucuk-pucuk atap Waerebo. Yee sampai juga! Semakin banyak kami lihat para turis hilir mudik dan dengan begitu khidmat kami menyaksikan rumah-rumah melingkar yang begitu terjaga. Boy lalu mengantar kami masuk menemui pendamping di sana yang tentu saja kami harus menginap dengan harga Rp 350 ribu semalam dan itu sudah include makan. Kami juga dijelaskan akan tidur di matras yang juga dibuat melingkar dan bersatu padu dengan berbagai orang di sana.

Anak-anak berlarian dengan senang seolah tidak terganggu dengan banyaknya turis yang datang dari berbagai penjuru dunia. Malam di Waerebo pun mengejutkan, apa ceritanya. Tungguin ya!

Labuan Bajo! Semua Pemandangan Cantik dari Atas Bukit

Labuan Bajo jadi pemberhentian pertama saya menjelajah Flores lebih lanjut. Saya sudah sangat excited banget dengan perjalanan ini dan siapa sih yang gak mau datang ke surganya Indonesia Timur ini. Di kota ini semua bermula, di bandara yang kecil dan seadanya kami mulai menyulam dream trip. Tak ada rencana yang spesifik, namun saya sudah menyiapkan driver yang bisa saya pakai besok overland ke sepanjang Flores, mulai Labuan Bajo hingga Kelimutu disambung one day trip di Pulau Komodo, Padar dan sebagainya. Salah satu perjalanan panjang saya yakni sekitar 7 hari.

Sampai di Bajo, kami celingak celinguk memantau mana driver yang bisa kami andalkan hari ini. Sebab semua berebut menawarkan jasanya, mirip calo. Maka saat itu kami memilih seorang pemuda bertato yang mengendarai mobil xenia hitam. Kami belum punya rencana yang pasti untuk hari ini, makanya kamu memintanya mengantarkan kami ke tempat makan yang bagus dan bisa melihat pemadangan dari atas bukit. Lalu dia membawa kami ke restoran Le Cecile.

Restoran yang menyatu dengan hotel ini mempunyai ruang terbuka dengan pemandangan lepas pantai di atas bukit, saat kami datang panas mulai menyengat karna saat itu tepat jam 12 siang. Beruntungnya kita karena cafe ini masih kosong banget jadi kita bebas foto-foto walaupun sampai nyiriweng matanya karena kepanasan dan silau. Oh ya, gimana harga makanan di sini? tentunya mahal hahha, mirip-mirip range harga di restoran kekinian di Bali. Rata-rata makanan dibanderol mulai dari Rp 50 ribu dan rasanya biasa saja. Ya, karena mereka menjual vibe dan panorama bukan rasa makanan. Oia, yang patut dicatat di Flores ini semua penyajian makanan lama. Paling cepet itu setengah jam, serius. Awalnya kami pikir memang restorannya saja eh lama-lama beneran kok semua tempat makan begitu. Setelah tanya warlok, ternyata mereka memang gak sigap alias leha-leha kalau pesanan datang jadi wajar lah lama datangnya. Ini yang bikin saya gregetan sama pelayanan di semua restoran di Flores.

Abis dari La Cecile, kita istirahat sebentar di hotel kita yang ternyata dekat dengan dermaga dan alun-alunnya Labuan Bajo, jadi pas pagi-pagi bisa foto-foto laut yang cantik, nama hotelnya Matahari Hotel. Pemandangannya langsung ke laut widih asik banget kan dan harganya juga ramah di kantong. Setelah istirahat beberapa jam, kami eskplorasi lagi dengan sopir yang sama ke Bukit Cinta atau disebut dengan Bukit Amelia.

Di bukit ini banyak banget ilalang-ilalang gitu yang bikin suasana kayak di video klip hahaha jadi bisa banget kalian sok-sokan foto-foto berasa jadi model. Sembari menunggu senja, kita naik-naik ke bukit yang menguning ini sembari menatap ke laut lepas ditemani semilir angin eciyeh udah cocok banget kan scene-nya hahhaa. Untuk diketahui juga karena Labuan Bajo di daerah timur maka magribnya jadi sedikit terlambat sekitar jam 7 malam. Nah sebenernya bagi para tamu yang menginap di Alila Hotel mereka dapat akses yang wow banget, ada dermaga sekaligus bisa melihat senja dengan lebih dekat. Tapi ya ada barang ada harga ya. Kebetulan senja yang kita dapat hari itu lumayan bangus dan orange parah walaupun ada beberapa awan hitam menggumpal dan menghalangi, tapi tetap aja bagus parah hehehe…

Jadi kalau ke Labuan Bajo dan bingung mau kemana dan mager ke mana-mana, bisa banget ke tempat-tempat yang aku datangi, ciamik dan manis. Oh ya ini video pertama di Labuan Bajo, tunggu kelanjutannya ya.

Oh! Ada Hotel di PLBN RI-Malaysia sampai Segarnya Pancur Aji

Jokowi mencatatkan dirinya sebagai presiden yang berhasil mengubah wajah perbatasan. Banyak PLBN atau Pos Lintas Batas Negara yang sudah begitu mewah, beda dengan negara tetangga kita. Katanya, itu menjadi kebanggaan wajah Indonesia di hadapan mereka. Walaupun terlepas dari perbatasan yang sebenernya juga banyak menguntungkan si tetangga, tetapi fasilitas di PLBN memang tak main-main.

Saya kebetulan berkesempatan mengunjungi salah satunya di Entikong yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Setelah ikut memantau batok tapal batas, di malam hari kami menengok beberapa fasilitas di PLBN ini. Kebetulan saat itu masih pandemi sehingga aktivitas di sini kosong melompong. Walau begitu, saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Wisma Indonesia. Tempat ini rupanya penginapan yang katanya setara hotel bintang 3 dengan beberapa kelas kamar di dalamnya, termasuk kamar suite hingga VVIP.

Gedung yang bener-bener mencolok dan berdesain modern ini diperlengkapi dengan furnitur layaknya di hotel-hotel ibu kota. Saya yang memasuki kamar VVIP menemukan di dalamnya ada kamar dengan kasur king lalu kamar mandi bathtub. Di sampingnya ada ruang meeting, hingga ruang tamu. Katanya di sini pejabat sering menginap. Lalu bergeser ke gedung samping, ada pasar modern yang mirip banget sama pasar modern tangerang. Ada masjid yang megah juga dan kafetaria. Wah, nyaman banget serasa lagi di bandara. Tetapi saya belum lihat benar peruntukkannya seperti apa semoga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dan menjadi daya tarik wisata untuk negara tetangga. Sebab yang kita tahu selama ini, aktivitas ekonomi justru begitu menguntungkan Malaysia.

Hari sudah semakin malam, kami pun memutuskan kembali ke Senggau dan mampir sebentar ke tempat makan yang merangkap sebagai warung. Menariknya, warung ini menjual mie maggie ketimbang indomie yang buatan dalam negeri. Saya paham mungkin susah menemukan Indomie dibandingkan dengan Maggie dari Malaysia. Keesokan paginya saya diinformasikan bahwa saya harus extend dan sudah di approve jadilah saya masih tinggal sekitar 3 hari lagi di Senggau dan Pontianak. Besokannya kami dijadwalkan untuk mewawancarai petani lada yang menjadi komoditi utama di Entikong.

Saya pun kembali ke Entikong dan masuk ke perkebunan lada dengan bapak tak beralas kaki dan bajunya compang camping. Tapi jangan ditanya ternyata dia petani lada yang sukses bahkan anaknya kuliah di Pulau Jawa, wih! Walaupun bapak ini bertubuh kecil, tapi sungguh cekatan dia. Dia pun paham benar cara menanam dan berbisnis lada dengan baik. Ya gimana gak, dia sendiri belajar langsung dengan para petani lada di Malaysia. Mereka pun bertukar informasi seputar lada yang ternyata si bapak ini merasa bibit lada Malaysia lebih baik dan cepat berbunga.

Sementara di RI untuk pupuk saja kualitasnya sudah beda. Subsidi sih tetapi kualitasnya juga turun drastis. Makanya si Bapak mengeluh dengan tegas soal hal ini. Saya pun cuma mengangguk-angguk paham. Benar-benar masalah yang pelik. Curhatan petani ini pun saya tuliskan dan berharap pak menteri nun jauh di sana membaca tulisan saya.

Selepas dahi saya berkerut-kerut, untungnya penyelenggara paham saya butuh penyegaran. Maka dibawanya saya menuju Pancur Aji yeaaay… Apa tuh? ini macemnya kayak air terjun yang letaknya memang sedikit horor karena di tengah hutan rimbun. Jalan menuju ke sana, walau dekat pusat kota Sanggau, tetap saja melalui jalan yang terjal dan penuh dengan pepohonan. Tapi sampai di sana, derasnya air yang jatuh ke tanah begitu kencang. Ternyata benar, air terjun ini punya debit air yang besar dan deras walaupun pendek. Mungkin habis hujan juga dan membuat air di sini jadi kecoklatan. hehehe ga jadi mandi deh.

Beberapa teman mencoba mendekat dan bebatuan di sini licin jatuhlah dia, jadi kudu ati-ati ya semakin jarang orang datang ke sini ya jarang juga yang menapaki bebatuannya. Untungnya di sini bersih dan pengelola juga menyediakan gazebo dan toilet yang mumpuni jadi wisatawan betah. Hehehe… Senggau memang tak punya banyak wisata, tapi kalau ke sini coba deh mampir ke Pancur Aji ya. Videonya di bawah ini.

Melihat Patok Perbatasan RI-Malaysia, Oh… Gini!

Perbatasan adalah tempat yang selalu menarik bagi saya. Menurut saya pribadi, kisah-kisah di perbatasan dan pelosok Indonesia membuat saya jatuh cinta 1000 kali kepada Indonesia dari pada saya pergi ke tempat-tempat hedon. Sebabnya, tak lain karena banyak kehangatan, kedekatan dan senyuman di dalamnya sekaligus cerita sedih dan lucu yang membuat perasaan saya sukses campur aduk.

Kali ini saya dapat kesempatan mengunjungi Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat. Perjalanan ini sungguh sudah digas pol sedari awal. Gimana gak, mendarat di Pontianak kami sudah langsung berkendara ke Sanggau yang memakan waktu sekitar 4 jam dari Pontianak. Saat itu perjalanan kami malam hari jadi kami bisa tidur meskipun degdegan karena kanan kiri tidak kelihatan apapun. Rasa was was ini pun akhirnya kalah dari rasa kantuk dan lelah yang sudah ditahan sedemikian rupa.

Di tengah perjalanan, kami juga singgah di kedai yang beda dari sekelilingnya penuh dengan lampu terang benderang. Rupanya ini adalah tempat para sopir singgah. Makanan yang disajikan apa adanya dan tidak menimbulkan selera. Jadinya tetap pop mie pilihan saya daripada harus makan nasi warteg yang sudah didiamkan seharian. Kemudian kami sampai di satu hotel berlantai 3, namanya Grand Hotel Narita.

Kabupaten Sanggau tidak seperti bayangan saya, kota ini cukup ramai dengan banyak alfamart (tanda peradaban) ATM dan macam-macam hotel yang sekelas bintang 2 di Jakarta. Jadi seperti saya sedang di kampung halaman. Hotel yang kami tempati diklaim hotel terbesar di tempat ini karena terdapat lift yang lebih banyak mati daripada hidupnya wkwkw dan paling penting gak ada layanan laundry.

Malam itu saya tidur dengan salah satu penyelenggara yang menggelar seminar pentingnya perbatasan dengan melibatkan tokoh masyarakat. Saya terlelap dengan cepat malam itu, walaupun teman sekamar saya gak bisa tidur dan sesekali saya mendengarnya mengobrol atau membuat kebisingan yang lain. Ternyata besok paginya, dia bilang teman yang lain terkunci di kamar mandi dan mendengar hal-hal yang janggal. Waduh Masa! memang hotel ini tua dan tampak tak dipercaya untuk gak ada hantu-hantuan.

Besok paginya acara berlangsung sebagian waktu mendengarkan seminar, sebagian yang lain langsung meluncur ke lokasi, PLBN Entikong. Ternyata dari pusat kota ke Entikong lumayan jauh juga sekitar 45 menit hingga 1 jam. Sampai di sana, tampak gagah PLBN yang digagas Pak Jokowi ini. Dia seolah berdiri menjadi pelindung sekaligus garda selamat datang bagi para WNI. Nampak kontras dengan sekelilingnya yang bahkan rumah bagus pun tak ada.

Saya tak punya banyak waktu memandangi PLBN ini lama-lama, karena sudah harus mengikuti peserta pelatihan. Di sini para pemangku kepentingan diajak untuk melihat patok-patok dan jenis penanda perbatasan. Saya mengikuti mereka mengekor ke para TNI yang ditugaskan untuk menjelaskan ke para peserta. Saya bergerak lambat karena jalanan naik dan tidak rata plus becek. Hmmm. Hingga kami berhenti dan mengerubungi satu batok batu yang ditanam di tanah. Di sisi-sisinya terdapat kode nomor dan inisial SWK (serawak) dan IND (Indonesia).

Kata bapak TNI, tipe patok ini adalah tipe patok yang paling sederhana dan paling rentan hilang atau berpindah. Oleh karena itu, tujuan masyarakat diajak ke sini untuk sama-sama bisa memonitor jumlah dan letak patok ini yang tersebar di sepanjang Serawak dan Entikong. Pak TNI juga bilang kalau terkadang mereka juga sama-sama patroli bahkan bersama pihak Malaysia, untuk menentukan dan mengecek batas-batasan baru. Wah, saya ga bisa ngebayangin kalau di antara keduanya menemukan patok hilang atau bergeser apa langsung tembak di tempat, waduh! Tapi mendengar pertanyaan ini, Pak TNI malah tertawa dan bilang tidak seperti yang saya bayangkan karena suasana cair sewaktu patroli bersama karena budaya yang sama. Mereka solat bersama hingga makan Indomie bareng. Wih seru juga.

Saya kemudian mulai memindai, katanya di beberapa tempat ada juga kamera yang dipasang atau bahkan tanda batasnya lebih keren karena terhubung dengan sistem di PLBN. Tapi saya tak menemukan apapun justru saya melihat perbedaan yang mencolok diantara PLBN Malaysia dan Indonesia hehe, bangga juga. Perbatasan Malaysia lebih lebat hutannya dan PLBNnya mirip pos siskamling dengan beberapa rumah di sekitarnya.

Tapi hal miris yang terjadi justru banyak barang-barang dari Malaysia datang. Warga kita lebih suka bekerja hingga membeli apapun di Serawak dibanding di dalam negeri sendiri. Sebabnya, barang-barang di Malaysia lengkap tersedia sementara masyarakat perbatasan harus ke Pontianak untuk membeli kebutuhan pokok yang jauhnya bisa 4 jam. Ya Pantes sih sekaligus sedih. Jadi bisa dikatakan di perbatasan ini sungguh Indonesia membutuhkan apapun dari Serawak makanya lalu lintas di sini begitu padat. Sayang, saya ke sini saat COVID jadi perbatasan tengah ditutup. Ini jadi pembelajaran untuk kita bahwa walau terlihat keren dari luar nyatanya kita gak bisa memenuhi kebutuhan, pekerjaan hingga hal remeh temeh untuk masyarakat di perbatasan.

Jadi ketahuan kan budaya kita emang selalu pentingin apa yang tampak dari luar bukan di dalamnya seperti apa. Di luaran tampak mewah di dalamnya kita berdarah-darah. belajar negara, kita pandai menyembunyikan luka ya. eaaa…. Nantikan cerita lainnya ya